SEKOLAH GRATIS DIKUPAS SIANG INI DI PLASA SOTO PEKANBARU


Persoalan ekonomi dan kultural membuat anak putus sekolah
Warga Masih Bingung, Apanya yang Gratis?

PENDIDIKAN gratis, itulah ‘kejutan’ Pemerintah Provinsi Riau terhadap warganya di tahun 2009. Harusnya kado ini disambut gegap gempita oleh warga. Bayangkan, anak-anak mereka akan bersekolah dengan gratis dari sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. “Jujur saja, saya masih bingung. Apa saja sih yang gratis itu, apa semuanya?” kata Dedi, warga Jalan Pahlawan Kerja, Pekanbaru.

Sedangkan Agung menanggapi dengan sinis. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Pekanbaru itu mengatakan, program pemerintah itu dalam realitanya kerap tak sesuai. “Kenyataannya, biaya masuk sekolah tetap besar. Belum lagi dengan buku-buku pelajaran yang nyaris setiap tahun berganti,” kata dia. Pernyataan-pernyataan bernada sinis tak jarang terdengar dalam pembicaraan warga, apakah itu di kedai, oplet, hingga acara kumpul-kumpul.

Bisa jadi Dedi dan Agung atau banyak warga kota lainnya salah persepsi. Kepala Dinas Pendidikan Yuzamri Yakub kepada Tribun pernah mengatakan, pendidikan gratis sembilan tahun itu hanya berlaku untuk sekolah-sekolah negeri. Item-item yang tidak dipungut biaya itu antara lain biaya seleksi penerimaan siswa, masuk sekolah, ujian akhir, buku pelajaran pokok, kapur dan spidol.

“Memang tidak semuanya gratis dan bisa ditanggung pemerintah. Yang digratiskan itu beberapa kebutuhan minimal pelaksanaan pendidikan dasar di sekolah negeri,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau Prof Irwan Effendi. Apa dan bagaimana sebenarnya pendidikan gratis itu akan menjadi topik bahasan dalam diskusi Tribun on Focus yang akan digelar Kamis (4/6), pukul 14.00 WIB di Plasa Soto, Jalan Sudirman, Pekanbaru.

Diskusi yang ditaja harian Tribun Pekanbaru dan bekerja sama dengan Plasa Soto itu akan menghadirkan pengamat pendidikan Drs. Isjoni Ishaq Msi, Phd. dan Prof. M Diah, serta dari Dinas Pendidikan Provinsi Riau.

Isjoni mengatakan, pendidikan gratis tapi berkualitas sulit diwujudkan. “Bagaimana pun untuk mendapatkan pendidikan berkualitas perlu biaya,” kata Isjoni, yang juga Ketua PGRI Provinsi Riau.
Hal senada diungkapkan M Diah. Ia mengatakan, pendidikan memang seharusnya gratis karena itu kewajiban negara. “Namun pendidikan berkualitas perlu biaya. Itu artinya memang harus ada peran serta masyarakat di dunia pendidikan,” tuturnya.

Anda tertarik dengan topik ini? Silahkan datang ke Plasa Soto, karena Tribun on Focus akan mengupas dengan tuntas tema yang menarik tersebut. (Tribun Pekanbaru)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: