KETIKA UJIAN NASIONAL BERBUAH CURANG

Oleh : Yayuk Sustinah

nenas1

Siapa yang patut disalahkan? Guru, siswa, atau pemerintah?! Selagi hasil Ujian Nasional masih ditetapkan sebagai salah satu syarat kelulusan bagi siswa? Maka jangan pernah menyalahkan pada siapapun, jika hampir setiap Ujian Nasional berlangsung selalu terjadi kecurangan dimana-mana

Ungkapan menyatakan “Berani jujur berarti berani hancur” mana mungkin? Apa kata masyarakat?, apa kata atasan?, apa kata dunia? Jika sampai ada sekolah yang 100% siswanya tidak lulus?, pasti sekolah akan dituding sebagai sekolah yang tidak bermutu, gurunya tidak becus mengajar, dan masih banyak gelar lain yang bakal disandangnya.

Tetapi pernahkan masyarakat, pihak pemerintah berprasangka baik pada sekolah-sekolah yang menuai kegagalan dalam pelaksanaan Ujian Nasional akibat “keluguannya”?. Ternyata zaman memang sudah edan! Orang lebih senang hidup dalam kepura-puraan dan tidak berani menghadapi kenyataan!.

Ketika standar Ujian Nasional disamaratakan? jangan kaget kalau banyak siswa gagal Ujian Nasional dan pelaku pendidik menempuh jalan pintas. Lalu apa solusinya? Haruskah Ujian Nasional ditiadakan? Menurut saya Ujian Nasional tetap harus dilaksanakan dan ditingkatkan standar nilainya, tetapi janganlah nilai Ujian Nasional dijadikan patokan sebagai salah satu penentu kelulusan siswa, sehingga seolah-olah guru tidak diberi kepercayaan dan tanggung jawab serta wewenang sebagai tenaga pendidik yang professional. Artinya guru tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan kelulusan siswa
Wahai Tuan yang Budiman

  • Adilkah jika siswa mempelajari 11 mata pelajaran, tetapi yang menentukan kelulusannya hanya 4 mata pelajaran
  • Adilkah menyamaratakan standar kelulusan, antara sekolah yang mempunyai fasilitas tenaga pendidikan lengkap, dengan sekolah yang ada di daerah-daerah terpencil? Dimana seorang guru adakalanya mengajar lebih dari dua mata pelajaran?

Lalu kapan guru kita akan menjadi seorang pendidik seutuhnya ? hanya Alloh yang maha tau

Yayuk Sustinah
Kepala Sekolah SMP Nurul Falah Pekanbaru

4 Tanggapan

  1. Ujian Nasional tampak nyata hanya sekedar mengejar proyek. Perusahaan percetakan, pabrik kertas, dan ribuan tenaga kerja sangat haus dengan sedikit rezeki.
    Masalah kualitas pendidikan tidak bisa ditingkatkan dengan ujian nasional. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan diperlukan proses. Bukan hompimpah membalik-balik tangan.
    Sebagai seorang guru, saya menangis setiap kali menghadapi anak-anak yang menghadapi ujian nasional.
    Mau apa, kita?

  2. Makasih kembali atas kunjungannya.
    Saya mengajar di MTs Negeri Kumai, di Kalimantan Tengah.

  3. kunjungan balik …
    Saya setuju dengan Ibu, setiap daerah tidak sama tingkat pembelajaran dan karakteristik siswanya, belum lagi karakteristik sekolahnya, fasilitas dan lain-lain, oleh karena itu tidak dapat disamakan dengan patokan nilai ujian

  4. Memang kejujuran itu berat. kami mengalami sendiri, ketika kami mengatakan tidak untuk ikut terlibat dalam kekeliruan itu, kami dijauhi sekolah yang lain.
    Kami sendiri tak pernah takut kalau-kalau ada anak di sekolah kami yang tidak lulus. kami mengajarkan kejujuran, kenapa harus ternodai justru saat mau keluar.

    Kalau membaca Permen tentang hasil UN seharusnya pemerintah benar-benar konsisten, sekolah yang banyak anaknya tidak lulus, maka kewajiban pemerintah untuk meningkatkan kualitas sekolah yang bersangkutan, bukan menyalahkan ketidakmampuan pihak sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: